Jumat, 08 Februari 2013

Proses Pengolahan Limbah Jambu Mete, Kakao Dan Kopi Untuk Pakan Penguat Ransum Ternak


Tanaman jambu mete, kakao dan kopi di samping menghasilkan produk utama berupa kacang atau biji, juga menghasilkan produk sampingan limbah berupa buah semu mete, cangkang kakao dan kulit buah kopi. Dipandang dari aspek pakan ternak, produk limbah  memiliki potensi untuk diolah sebagai bahan pakan penguat (konsentrat) yang dapat dimanfaatkan untuk mengganti dedak sebagai komponen penting dalam ransum ternak, baik ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau) maupun ternak monogastrik (unggas seperti ayam, itik).
 Nilai potensi limbah tersebut cukup besar, yaitu pada jambu mete limbahnya berupa buah semu mencapai ± 91% dari total berat buah  basah, pada kakao limbahnya berupa cangkang mencapai ± 73% dari total berat buah buah basah, dan   pada  kopi limbah kulitnya  mencapai ± 48% dari total berat buah basah.  Akan tetapi limbah-limbah tersebut memiliki beberapa kelemahan antara lain : (1) kandungan gizi terutama proteinnya relatif rendah, (2) mengandung senyawa-senayawa yang dapat menghambat petumbuhan seperti theobromin pada kakao dan asam anarcadat pada buah semu mete, (3) kandungan serat kasar yang tinggi, dan (4) kandungan air yang tinggi sehingga mudah rusak membusuk. Sehingga untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut dan meningkatkan mutu gizi serta daya simpannya, maka limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum dipergunakan sebagai pakan ternak.
Proses pengolahan meliputi pencacahan, fermentasi, pengeringan, penggilingan dan pengemasan. Adapun proses pengolahan yang terpenting adalah fermentasi, dimana melalui proses fermentasi mutu limbah tersebut dapat ditingkatkan, sehingga kandungan gizinya bisa hampir sama, atau bahkan melebihi kandungan gizi dedak padi. Dalam kasus limbah jambu mete, dengan proses fermentasi dapat meningkatkan kadar protein buah semu jambu mete dari 9,15%  menjadi 20,80% (dari bahan kering), sedangkan kandungan serat kasarnya menurun dari 14,48% menjadi 8,56%. Dengan proses pengolahan, diharapkan adanya senyawa-senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan ternak dapat dihilangkan atau ditekan,  begitupun masa penyimpanannya dapat diperpanjang, sehingga dapat tersedia sepanjang tahun diluar musim panen.
1. Pencacahan
Tujuan pencacahan adalah memperkecil bentuk limbah, sehingga lebih mudah untuk difermentasi. Oleh karena itu pencacahan perlu dilakukan pada limbah  jambu mete dan kakao, mengingat kedua jenis limbah ini  bentuknya terlalu besar, sehingga akan sulit untuk difermentasi. Pencacahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau atau golok, tetapi agar lebih efisien pencacahan sebaiknya dilakukan dengan alat  mesin pencacah. Dimana setelah pencacahan limbah jambu mete dan kakao, akan berbentuk serpihan-serpihan berukuran 2–5 cm. Sebaiknya proses pencacahan dilakukan segera setelah buah dipanen, agar limbah masih dalam kondisi segar.
2. Fermentasi.
Proses fermentasi dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi limbah serta menekan kadar senyawa-senyawa yang dapat menghambat pencernaan. Fermentasi dapat dilakukan dengan beberapa jenis mikroba, diantaranya yang efektif adalah Aspergillus niger. Sebelum digunakan, Aspergillus niger dilarutkan dengan air yang steril tanpa kaporit. Seperti air mata air atau air sumur yang bersih, bisa menggunakan air hujan atau air sungai, tapi harus dimasak lebih dahulu untuk membunuh mikroba yang ada, kemudian didinginkan.
1.       Kedalam 10 liter air larutkan 100 g gula pasir, 100 g urea  dan 50 g NPK.
2.       Selanjutnya tambahkan  100 ml Aspergillus niger, lakukan pengadukan.
3.       Larutan diaerasi selama 24–36 jam, setelah itu larutan Aspergillus niger dapat dipergunakan.
Proses fermentasi bisa dilakukan dalam kotak, atau di atas anyaman bambu/para-para atau di atas lantai yang dilapisi dengan kayu/bambu, yang penting tempatnya harus teduh beratap agar bahan tidak terkena hujan atau sinar matahari. Bahan limbah yang telah siap difermentasi ditaburkan pada permukaan media setebal 5–10 cm, selanjutnya disiram dengan larutan Aspergillus niger secara merata. Penyiraman bisa dilakukan dengan tangan, tetapi lebih baik dengan gembor atau sprayer agar lebih merata.
Diatas tumpukan bahan yang telah tersiram larutan Aspergillus niger ditaburkan lagi limbah setebal 5–10 cm, selanjutnya disirami larutan Aspergillus niger secara merata. Demikian seterusnya, sehingga bahan habis tertumpuk dan tersiram cairan Aspergillus niger.
Selanjutnya diatas tumpukan limbah ditutup dengan goni atau plastik yang bersih secara rapat agar terlindung dari mikroba lain, dan dibiarkan hingga 4–5 hari.  Setelah umur 4-  5 hari, baru dibongkar, selanjutnya dikeringkan.
3. Pengeringan.
Pengeringan bisa dilakukan dengan sinar matahari atau dengan alat dryer, dengan tujuan untuk menghentikan proses fermentasi, disamping itu pengeringan juga untuk mempermudah proses penggilingan serta memperpanjang daya simpan, karena kadar air akan turun hingga 12–14%. Limbah olahan yang telah kering, akan ditandai dengan tekstur yang keras dan warna yang kehitam-hitaman.
4. Penggilingan.
Penggilingan dimaksudkan agar limbah bentuknya lembut seperti tepung sehingga ternak mudah memakan dan mencernanya.  Disamping itu, penepungan akan memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan pencampuran pada saat diberikan pada ternak. Penggilingan secara efisien bisa dilakukan dengan menggunakan alat mesin penggiling. Dalam proses penggilingan ukuran serbuk bisa diatur. Untuk pakan ternak ruminansia, ukurannya bisa agak kasar, sedangkan untuk babi atau ayam sebaiknya bentuknya lebih lembut. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan saringan dengan ukuran lubang yang berbeda.
5.  Pengemasan
Tepung konsentrat bisa langsung diberikan pada ternak, bisa pula disimpan dalam waktu yang cukup lama yaitu 6–10 bulan. Agar bahan tidak cepat rusak dan mutunya dapat dipertahankan dalam penyimpanan tepung limbah perlu dilakukan pengemasan dengan wadah plastik atau goni, dan diikat atau dijahit agar tidak kemasukan serangga atau mikroorganisme perusak, serta disimpan ditempat yang kering dan teduh.
Tepung konsentrat limbah jambu mete, kakao dan kopi  bisa diberikan sejak ternak masih kecil, fase pertumbuhan, hingga fase reproduksi. Untuk ternak ruminansia pada saat masa menyusui atau prasapih pakan diberikan melalui induknya. Selanjutnya, pemberian pakan bisa dilakukan secara berangsur-angsur sesuai dengan bertambahnya umur. Ternak sapi atau kambing muda dapat dibiasakan
mengonsumsi konsentrat hingga tiba masa pascasapih. Selanjutnya, konsentratbisadiberikan langsung pada ternak yang telah melewati masa pascasapih tersebut. Sementara itu, pada ternak monogastrik tepung konsentrat bisa diberikan secara langsung sejak fase starter hingga fase reproduksi (bertelur).
Dalam penggunaan untuk ternak ruminansia, tepung konsentrat merupakan pakan penguat, hijauan tetap diberikan, sedangkan pakan penguat sebagai pakan tambahan untuk mempercepat pertumbuhan atau meningkatkan produksi susu. Tepung konsentrat  bisa dijadikan pengganti dedak, dengan dosis pemberian 0,7–1,2% dari berat hidup ternak. Pada awal pemberian, sebagian ternak tidak segera mengonsumsi konsentrat limbah jambu mete, kakao dan kopi dengan lahap. Ternak memerlukan waktu untuk beradaptasi untuk mengkonsumsinya, oleh karena itu agar ternak lebih berselera mengkonsumsi pakan pada tahap awal, tambahkan sedikit garam, gula merah, atau tetes tebu ke dalam tepung konsentrat untuk merangsang nafsu makan. Adapun pada ternak monogastrik, tepung konsentrat bisa dijadikan komponen penyusun ransum sebagai pengganti dedak, untuk tepung konsentrat limbah jambu mete dan kakao, dosis penggunaannya bisa mencapai 20– 22%, sedangkan untuk tepung konsentrat limbah kopi  dosis penggunaannya mencapai 10 –15% dari berat ransum. (balittri.litbang.deptan.go.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar